Pada 17 Juni 2026, Bank Dunia menerbitkan ringkasan hasil program kesehatan Indonesia — salah satu laporan paling komprehensif tentang capaian sistem kesehatan nasional dalam beberapa tahun terakhir. Di balik angka-angka makro yang terkesan positif, terdapat satu data yang perlu dicermati secara serius oleh seluruh pengelola fasyankes primer: kunjungan layanan kesehatan di Indonesia melonjak dari 378 juta kunjungan pada 2020 menjadi 686 juta kunjungan pada 2024 — nyaris dua kali lipat dalam empat tahun, atau setara pertumbuhan sekitar 8% per tahun.
Angka ini bukan sekadar statistik keberhasilan program JKN. Bagi klinik pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter (TPMD), dan puskesmas, angka ini berarti satu hal: volume pasien yang jauh lebih besar harus dilayani dengan sumber daya yang — dalam banyak kasus — belum bertumbuh secepat permintaannya.
Dari 378 Juta ke 686 Juta: Lonjakan yang Dirasakan di Lapangan
Laporan Bank Dunia mencatat bahwa peningkatan kunjungan ini didorong oleh ekspansi kepesertaan JKN yang kini menjangkau lebih dari 99 juta penerima manfaat langsung, serta berbagai program pemerintah seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang sejak awal 2026 telah diikuti lebih dari 4,5 juta masyarakat. Selain itu, kepuasan peserta JKN meningkat signifikan dari 82% menjadi 92% — sebuah angka yang mencerminkan perbaikan persepsi publik terhadap layanan primer.
Namun perlu diingat bahwa lonjakan kunjungan ini tidak terdistribusi merata. Sebagian besar beban tambahan jatuh di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP): puskesmas, klinik pratama, dan TPMD — bukan rumah sakit. Ini berarti setiap klinik pratama dan dokter yang berpraktik mandiri menanggung beban limpahan langsung dari keberhasilan program JKN tersebut.
Clinical Decision Support Tools: Sudah di 80% FKTP, tapi Klinik Swasta Bagaimana?
Salah satu temuan penting dalam laporan Bank Dunia adalah keberhasilan deployment clinical decision support tools (alat bantu pengambilan keputusan klinis berbasis data) di 80% fasilitas kesehatan primer. Alat ini — yang umumnya terintegrasi dalam sistem informasi kesehatan atau platform Satu Sehat — dirancang membantu dokter membuat keputusan klinis yang lebih tepat dan konsisten, khususnya dalam penanganan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.
Angka 80% terdengar menggembirakan. Namun pertanyaan yang belum terjawab dalam laporan tersebut adalah: berapa banyak dari klinik pratama swasta dan TPMD yang masuk dalam cakupan itu? Data Bank Dunia bersumber dari program pemerintah yang cenderung menyasar puskesmas dan fasilitas publik terlebih dahulu. Sementara itu, sebagian besar klinik pratama swasta — termasuk anggota HIFDI — masih bergantung pada sistem rekam medis mandiri yang integrasinya ke Satu Sehat bervariasi.
"Kepuasan peserta JKN naik dari 82% ke 92%, didukung clinical decision support tools yang telah tersebar di 80% fasilitas kesehatan primer." — Bank Dunia, Hasil Program Kesehatan Indonesia, Juni 2026
Peralatan dan Kapasitas: Lebih dari 6.700 Unit untuk 4.000+ Fasyankes Primer
Bank Dunia juga mencatat bahwa lebih dari 6.700 unit peralatan medis telah didistribusikan ke lebih dari 4.000 fasilitas kesehatan primer sebagai bagian dari program Health Systems Strengthening (HSS). Distribusi ini berkontribusi langsung pada peningkatan 8% per tahun dalam kunjungan rawat jalan yang terdata. Investasi peralatan tersebut difokuskan pada fasilitas publik, terutama puskesmas di daerah tertinggal dan Indonesia bagian timur.
Kondisi ini menciptakan kesenjangan kapasitas antara puskesmas yang mendapat dukungan program dan klinik pratama swasta yang harus memenuhi standar alat secara mandiri. Di satu sisi, kedua jenis fasilitas ini bersaing memperebutkan pasien JKN yang sama. Di sisi lain, pasien tidak selalu memilih berdasarkan kapasitas alat — melainkan berdasarkan kedekatan lokasi, waktu tunggu, dan kenyamanan pelayanan.
Posisi HIFDI
HIFDI menyambut data Bank Dunia ini sebagai konfirmasi atas apa yang sudah lama dirasakan oleh anggota di lapangan: beban kunjungan di fasyankes primer terus meningkat, dan tren ini akan berlanjut seiring perluasan CKG serta penguatan JKN. Ini bukan pertanda buruk — ini adalah cerminan sistem yang mulai dipercaya masyarakat.
Namun kepercayaan masyarakat hanya bisa dijaga jika kapasitas fasyankes primer tumbuh seiring permintaan. HIFDI mendorong tiga langkah konkret yang perlu segera direspons oleh pembuat kebijakan: pertama, percepatan integrasi klinik pratama swasta dan TPMD ke dalam program clinical decision support tools yang selama ini lebih banyak menyentuh puskesmas; kedua, skema kapitasi JKN yang merefleksikan beban kerja nyata per kunjungan, bukan sekadar jumlah peserta terdaftar; ketiga, program pendampingan mutu yang dapat diakses klinik pratama swasta tanpa hambatan birokrasi berlebihan.
Keberhasilan sistem kesehatan Indonesia tidak bisa sepenuhnya disandarkan pada puskesmas pemerintah. Klinik pratama swasta dan TPMD menanggung porsi signifikan dari 686 juta kunjungan itu — dan mereka perlu mendapat perhatian yang setara dalam kebijakan pengembangan kapasitas nasional.
Penutup
Laporan Bank Dunia Juni 2026 adalah cermin yang menunjukkan dua wajah sekaligus: keberhasilan Indonesia menggerakkan masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan primer, dan pekerjaan rumah yang masih besar dalam memastikan kapasitas fasyankes primer — terutama yang dikelola swasta — mampu menanggung beban yang terus tumbuh. Bagi HIFDI, data ini bukan alasan untuk puas, melainkan peta kerja untuk advokasi kebijakan yang lebih tajam pada semester kedua 2026.
- World Bank Group — "Expanding Health Service Coverage, Quality, and Equity at Scale in Indonesia", 17 Juni 2026. worldbank.org
- Kementerian Kesehatan RI — "Setahun Cek Kesehatan Gratis, Fokus Bergeser dari Deteksi ke Pengobatan Nyata", 10 Februari 2026. kemkes.go.id
- WHO Indonesia — "Strengthening primary health care financing through public financial management reform in Indonesia", Januari 2026. who.int/indonesia
- dhealth.co.id — "SatuSehat 2026: Tahapan Integrasi & Strategi Agar Faskes Patuh". dhealth.co.id