Aktivitas makan yang berlangsung beberapa kali sehari kini menjadi salah satu pendorong kerusakan lingkungan terbesar. Dalam opini di telisik.id, 29 Agustus 2026, Ketua HIFDI dr. Zaenal Abidin memaparkan data yang mencemaskan: sistem pangan global menyumbang 21-37 persen emisi gas rumah kaca dunia setiap tahun (IPCC, 2019), sektor peternakan menyumbang sekitar 14,5 persen emisi antropogenik global (FAO, 2013), dan pertanian menyerap sekitar 70 persen penarikan air tawar dunia (FAO AQUASTAT). Cara manusia mencari makan telah melampaui batas kemampuan bumi untuk pulih.
Tiga Pilar Pangan yang Tidak Merusak Lingkungan
Pertama, pertanian regeneratif dan agroekologi: olah tanah minimum, tanaman penutup tanah, rotasi tanaman, dan integrasi ternak-tani terbukti memulihkan kesuburan tanah, sementara polinator menopang jasa ekosistem bernilai USD 235-577 miliar per tahun (IPBES, 2016). Kedua, diet berkelanjutan dan diversifikasi pangan lokal: peternakan industrial memakai 83 persen lahan pertanian dunia tetapi hanya menyumbang 18 persen kalori dan 37 persen protein (Poore & Nemecek, 2018), sehingga pergeseran konsumsi ke pangan nabati lokal seperti tempe, tahu, sorgum, sagu, dan kelor menekan jejak karbon dan air secara signifikan. Ketiga, menghentikan limbah pangan: sekitar sepertiga makanan dunia, setara 1,3 miliar ton per tahun, hilang atau terbuang (FAO, 2011), dan metana dari sampah pangan 28 kali lebih kuat dari CO2 (IPCC AR5).
Cara kita makan adalah cara kita memilih hidup berdampingan dengan bumi.
Posisi HIFDI
HIFDI mendukung penuh gagasan ini karena pangan berkelanjutan adalah bagian dari kesehatan: gizi yang baik dan lingkungan yang sehat merupakan fondasi layanan kesehatan primer. HIFDI mendorong edukasi konsumsi pangan lokal dan pengurangan limbah pangan di lingkungan fasyankes, memperkuat literasi gizi berbasis pangan lokal pada pasien, serta mendukung advokasi kebijakan subsidi pertanian yang berkelanjutan. Kesehatan manusia dan kesehatan bumi tidak dapat dipisahkan.
Penutup
Aktivitas makan dapat berbalik dari ancaman menjadi sarana pemulihan bumi, selama dikelola dengan prinsip kecukupan, keadilan, dan keberlanjutan. HIFDI mengajak seluruh ekosistem fasyankes menjadikan etika piring sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan generasi mendatang.
- telisik.id, "Makan tanpa Merusak Lingkungan: Menata Ulang Etika Piring Kita di Tengah Krisis Ekologis" (29 Agu 2026) - https://telisik.id/news/makan-tanpa-merusak-lingkungan-menata-ulang-etika-piring-kita-di-tengah-krisis-ekologis
- IPCC, "Special Report on Climate Change and Land" (2019) - https://www.ipcc.ch/srccl/
- FAO, "Tackling Climate Change through Livestock" (2013) - https://www.fao.org/4/a-i3437e.pdf
- Our World in Data, "Environmental Impacts of Food Production" (mengutip Poore & Nemecek, Science 2018) - https://ourworldindata.org/environmental-impacts-of-food