Carrier baru diturunkan, badan baru duduk di batu, dan justru di situ napas terasa berat. Dada kencang, kadang berbunyi saat mengembuskan napas. Banyak pendaki menyimpulkan itu tanda badan kurang terlatih. Padahal kondisi ini punya nama: bronkokonstriksi akibat olahraga (EIB, exercise-induced bronchoconstriction), penyempitan saluran napas yang dipicu olahraga berat. GAAPP mencatat EIB menyerang 5 sampai 20 persen orang, dan sekitar sembilan dari sepuluh penderitanya juga punya asma.
Apa kaitannya dengan mendaki
Tinjauan StatPearls, diperbarui 2 Juni 2025, menjelaskan: saat berolahraga, udara yang masuk ke paru bisa naik sampai sekitar 200 liter per menit. Udara dingin dan kering sebanyak itu menguapkan lapisan air di saluran napas. Sel-selnya mengerut, sel mast melepas histamin, leukotrien, dan prostaglandin, lalu otot saluran napas berkontraksi dan lendir menumpuk.
Di gunung semuanya diperberat: udara makin dingin dan kering, jumlah udara yang dihirup lebih banyak karena membawa beban, tekanan oksigen turun, dan infeksi saluran napas mudah menular di tenda bersama. GAAPP justru menempatkan mendaki sebagai aktivitas berisiko rendah karena upayanya selang-seling.
Menanjak sambil membawa beban adalah kerja aerobik panjang, sementara di ketinggian tenaga yang tersedia mengecil. Pada atlet ketahanan, kapasitas aerobik turun sekitar 6,3 persen setiap kenaikan 1.000 meter, dan daya tahan sampai kelelahan turun 14,5 persen (Wehrlin dan Hallen, 2006). Pada ketinggian 2.000 meter, sekitar seperdelapan kapasitas aerobik mereka sudah hilang.
Masalahnya, kondisi ini jarang terdeteksi. Dari 31 pendaki ski-mountaineering yang berlomba di ketinggian dan suhu beku, 15 mengalami penurunan fungsi paru setelah lomba, dan 73 persen di antaranya belum pernah didiagnosis (Durand dan rekan, International Journal of Sports Medicine, 2005).
Peringatan yang perlu diketahui pendaki
Gejalanya khas pada waktunya: muncul dua sampai lima menit setelah beban dimulai, memuncak sekitar sepuluh menit, lalu mereda dalam satu jam (GAAPP). Napas berat karena kurang latihan membaik ketika ritme diturunkan, sedangkan EIB justru terasa paling berat saat beban berhenti.
Pertama, pada asma yang belum terkontrol, aktivitas fisik berat bisa memicu serangan berat. Dari 203 penderita asma yang berkonsultasi sebelum perjalanan liar, 43 persen mengalami perburukan di perjalanan, dan 37 persen di antaranya menyebutnya serangan terburuk dalam hidup mereka (Doan dan Luks, Wilderness and Environmental Medicine, 2014). Faktor risikonya: kebiasaan memakai inhaler pelega tiga kali seminggu atau lebih, dan aktivitas fisik berat saat trekking.
Kedua, inhaler bisa rusak karena dingin. Komisi Medis UIAA menganjurkan inhaler dibawa di badan, bukan di kantong luar jaket.
Ketiga, tidak semua sesak di ketinggian itu EIB. Mabuk gunung dan penumpukan cairan di paru bisa memberi keluhan serupa dengan penanganan berbeda. Kalau napas tidak membaik setelah istirahat dan inhaler pelega, itu tanda turun.
Kelaikan pendakian sebaiknya tidak berhenti pada surat keterangan sehat. Ada kapasitas aerobik dan ada kelaikan saluran napas, dan keduanya bisa diukur.
Kenapa ini penting, dan peluangnya di mana
Pencegahannya tidak mahal: pemanasan sebelum beban, bernapas lewat hidung, dan obat pelega sekitar 15 menit sebelum aktivitas, ditambah kortikosteroid inhalasi untuk gejala yang menetap (StatPearls).
Kelaikan pendakian masuk di sini, dan bisa diukur sebelum berangkat: kapasitas aerobik lewat uji beban termasuk VO2 Max, dan kelaikan saluran napas lewat pemeriksaan fungsi paru.
Peluangnya ada di empat sisi. Pendaki bisa tetap mendaki dengan aman. Komunitas dan penyelenggara open trip bisa menyusun skrining kelaikan sebelum berangkat. Layanan kesehatan primer bisa membuka pintu penapisan fungsi paru dan uji beban. Dan penjelasan EIB khusus untuk pendaki Indonesia masih jarang.
Kepala Bidang Litbangnov (penelitian, pengembangan, dan inovasi) Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), dr. Putro S. Muhammad, MH, CIHL, menilai kelaikan pendakian perlu diukur, bukan diasumsikan. "Kalau saluran napas menyempit di dua puluh menit pertama, ventilasi tidak bisa mengikuti tuntutan mendaki, laju turun dan waktu terpapar dingin makin panjang," katanya.
Posisi HIFDI
HIFDI mendukung edukasi pra-aktivitas, penapisan fungsi paru, dan standar kelaikan pendakian di layanan primer, serta menilai panduannya masih perlu dilengkapi. Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) adalah organisasi yang mewadahi ekosistem fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia, dari klinik pratama dan tempat praktik mandiri dokter hingga puskesmas, serta mitra dalam penguatan layanan kesehatan di lini depan.
Penutup
Kalau sesak selalu datang di waktu yang sama setelah beban berat, catat polanya, lalu periksa fungsi paru sebelum mendaki gunung berikutnya. Bawa inhaler pelega di tempat hangat dan jangan mendaki sendirian bila punya riwayat asma.
- Goldin J, Bruner PJ. Exercise-Induced Bronchoconstriction. StatPearls. Diperbarui 2 Juni 2025: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557554/
- Wehrlin JP, Hallen J. Linear decrease in VO2max and performance with increasing altitude in endurance athletes. European Journal of Applied Physiology, 2006: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16311764/
- Durand F, Kippelen P, Ceugniet F, dkk. Undiagnosed Exercise-Induced Bronchoconstriction in Ski-Mountaineers. International Journal of Sports Medicine, 2005: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15776341/
- Doan D, Luks AM. Wilderness and adventure travel with underlying asthma. Wilderness and Environmental Medicine, 2014.
- Milledge JS, Kupper T. People with Pre-Existing Conditions Going to the Mountains. UIAA Medical Commission, 2008: https://theuiaa.org/documents/mountainmedicine/UIAA_MedCom_Rec_No_13_Preexisting_Conditions_2008_V1-1.pdf
- GAAPP. Asma Akibat Olahraga: https://gaapp.org/id/diseases/asthma/exercise-induced-asthma